Harap Tunggu

Pemuda Pemimpi(n) | Karya: Auralia Intan Shalsagiani

Di saat kita tertidur semalam, mungkin beberapa dari kita ada yang bermimpi, mungkin sebagian masih mengingat mimpinya dan sebagian lagi telah lupa. Ada yang bermimpi indah, dan ada juga yang bermimpi buruk. Namun, mimpi tidak hanya datang ketika kita sedang tertidur. Mimpi juga dapat diciptakan oleh imajinasi kita ketika sedang sepenuhnya tersadar, terkadang kita sebut dengan berandai-andai. Bermimpi adalah hal yang wajar dilakukan oleh semua orang, bahkan semua orang pasti pernah bermimpi. Tak jarang pula kesuksesan seseorang diraih dari sebuah mimpi. Bermimpi menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup seorang manusia, jika manusia hidup tanpa memiliki mimpi maka dapat digambarkan kehidupannya sama saja dengan sebuah patung yang tak bernyawa.

Orang yang kerap bermimpi sering kali dianggap sebagai suatu hal yang buruk karena golongan pemimpi dianggap memimpikan sesuatu yang tidak ada dan tidak dapat diwujudkan. Terkadang pemimpi sering dianggap sebagai orang yang malas dan tidak suka bekerja, hanya senang berandai-andai. Hal ini tentu bertolak belakang dengan orang yang dianggap sebagai golongan realis, yang mana mereka lebih senang bekerja dibandingkan memikirkan hal-hal yang dirasa hanya ada dalam angan-angan. Padahal, pada kenyataannya bermimpi termasuk dalam sifat yang dimiliki oleh pemikir filsafat spekulatif. Bermimpi atau berandai-andai adalah kegiatan  yang menggunakan pikiran kita untuk mengumpamakan suatu kemungkinan yang ada. Jika kita lihat dari hal ini, maka bermimpi merupakan sesuatu yang penting bagi perkembangan manusia itu sendiri. Bermimpi memiliki kaitan erat dengan imajinasi, dengan bermimpi kita menggunakan imajinasi yang ada dalam diri kita untuk dapat membentuk suatu dunia yang kita harapkan. Membentuk dunia agar kita dapat keluar dari peliknya realita dunia serta menemukan jalan keluar atau jalan kreatif yang baru dalam menyelesaikan berbagai persoalan, atau kita dapat menemukan sudut pandang baru guna mengatasi berbagai masalah yang ada. 

Bermimpi atau berandai-andai juga hadir dalam bidang fisika. Dalam fisika, Albert Einstein (fisikawan teoretis yang mengembangkan teori relativitas, satu dari dua pilar utama fisika modern) sering kali menggunakan cara mengandai-andai dalam kecepatan cahaya karena kesulitan-kesulitan dalam pengujian. Suatu penelitian dengan eksperimen pikiran juga bukanlah hal baru di bidang ilmu pengetahuan. Maka dapat kita lihat bahwa bermimpi menjadi suatu kegiatan kreatif yang penting bagi kehidupan manusia. Lantas, bagiamana jadinya jika seorang pemimpi menjadi pemimpin? 

Menjadikan mimpi sebagai pijakan sebuah kepemimpinan, mungkin terdengar tidak stabil dan tidak realistis. Seorang pemimpi yang kepemimpinanya hanya diisi oleh mimpi-mimpi belaka tanpa adanya usaha untuk mewujudkannya tentu saja tidak dapat menjadi pemimpin yang baik. Seorang pemimpi yang dapat memimpin adalah ia yang dapat menggambarkan mimpinya untuk dapat direalisasikan bersama para anggotanya. Sebagai seorang pemimpi, agar dapat menjadi pemimpin yang ideal tentu harus memiliki sensitivitas atau kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Dengan kepekaan itu, maka seorang pemimpin akan memahami permasalahan yang ada dan mampu bergerak untuk menghadirkan solusi atas permasalahan tersebut. 

Dalam jalan merealisasikan mimpi, diperlukan juga rencana yang matang. Dalam membuat rencana tersebut kita harus dapat mengetahui fungsi dari rencana tersebut disusun. Tentukan tujuan rencana sedari awal guna mempersiapakn rencana dengan matang. Selain itu, strategi dalam merealisasikan mimpi juga harus disusun dengan baik guna mempermudah implementasi ke depannya. Setelah memiliki rencana, tentunya sebagai seorang pemimpin harus dapat menjelaskan dengan baik terkait rencana yang telah kita buat sebelum dieksekusi bersama para anggota. Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang superman tapi mereka yang superteam, karena itu kita harus dapat mengenali potensi anggota untuk bisa membagi job desc dengan sempurna. Setelah itu, barulah mimpi tersebut direalisasikan bersama para anggota dengan rencana yang telah disusun.

Tugas seorang pemimpin tak berakhir sampai di sini, setelah mimpi tersebut berhasil direlisasikan, pemimpin perlu melakukan pemeriksaan ulang atau evalusai terhadap hal yang telah dikerjakan. Hal ini dimaksud untuk dapat menjadi pembelajaran kedepannya guna merealisasikan mimpi-mimpi lainnya.

Di saat kita tertidur semalam, mungkin beberapa dari kita ada yang bermimpi, mungkin sebagian masih mengingat mimpinya dan sebagian lagi telah lupa. Ada yang bermimpi indah, dan ada juga yang bermimpi buruk. Namun, mimpi tidak hanya datang ketika kita sedang tertidur. Mimpi juga dapat diciptakan oleh imajinasi kita ketika sedang sepenuhnya tersadar, terkadang kita sebut dengan berandai-andai. Bermimpi adalah hal yang wajar dilakukan oleh semua orang, bahkan semua orang pasti pernah bermimpi. Tak jarang pula kesuksesan seseorang diraih dari sebuah mimpi. Bermimpi menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup seorang manusia, jika manusia hidup tanpa memiliki mimpi maka dapat digambarkan kehidupannya sama saja dengan sebuah patung yang tak bernyawa.

Orang yang kerap bermimpi sering kali dianggap sebagai suatu hal yang buruk karena golongan pemimpi dianggap memimpikan sesuatu yang tidak ada dan tidak dapat diwujudkan. Terkadang pemimpi sering dianggap sebagai orang yang malas dan tidak suka bekerja, hanya senang berandai-andai. Hal ini tentu bertolak belakang dengan orang yang dianggap sebagai golongan realis, yang mana mereka lebih senang bekerja dibandingkan memikirkan hal-hal yang dirasa hanya ada dalam angan-angan. Padahal, pada kenyataannya bermimpi termasuk dalam sifat yang dimiliki oleh pemikir filsafat spekulatif. Bermimpi atau berandai-andai adalah kegiatan  yang menggunakan pikiran kita untuk mengumpamakan suatu kemungkinan yang ada. Jika kita lihat dari hal ini, maka bermimpi merupakan sesuatu yang penting bagi perkembangan manusia itu sendiri. Bermimpi memiliki kaitan erat dengan imajinasi, dengan bermimpi kita menggunakan imajinasi yang ada dalam diri kita untuk dapat membentuk suatu dunia yang kita harapkan. Membentuk dunia agar kita dapat keluar dari peliknya realita dunia serta menemukan jalan keluar atau jalan kreatif yang baru dalam menyelesaikan berbagai persoalan, atau kita dapat menemukan sudut pandang baru guna mengatasi berbagai masalah yang ada. Karena itulah bermimpi menjadi 

Bermimpi atau berandai-andai juga hadir dalam bidang fisika. Dalam fisika, Albert Einstein (fisikawan teoretis yang mengembangkan teori relativitas, satu dari dua pilar utama fisika modern) sering kali menggunakan cara mengandai-andai dalam kecepatan cahaya karena kesulitan-kesulitan dalam pengujian. Suatu penelitian dengan eksperimen pikiran juga bukanlah hal baru di bidang ilmu pengetahuan. Maka dapat kita lihat bahwa bermimpi menjadi suatu kegiatan kreatif yang penting bagi kehidupan manusia. Lantas, bagiamana jadinya jika seorang pemimpi menjadi pemimpin? 

Menjadikan mimpi sebagai pijakan sebuah kepemimpinan, mungkin terdengar tidak stabil dan tidak realistis. Seorang pemimpi yang kepemimpinanya hanya diisi oleh mimpi-mimpi belaka tanpa adanya usaha untuk mewujudkannya tentu saja tidak dapat menjadi pemimpin yang baik. Seorang pemimpi yang dapat memimpin adalah ia yang dapat menggambarkan mimpinya untuk dapat direalisasikan bersama para anggotanya. Sebagai seorang pemimpi, agar dapat menjadi pemimpin yang ideal tentu harus memiliki sensitivitas atau kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Dengan kepekaan itu, maka seorang pemimpin akan memahami permasalahan yang ada dan mampu bergerak untuk menghadirkan solusi atas permasalahan tersebut. 

Dalam jalan merealisasikan mimpi, diperlukan juga rencana yang matang. Dalam membuat rencana tersebut kita harus dapat mengetahui fungsi dari rencana tersebut disusun. Tentukan tujuan rencana sedari awal guna mempersiapakn rencana dengan matang. Selain itu, strategi dalam merealisasikan mimpi juga harus disusun dengan baik guna mempermudah implementasi ke depannya. Setelah memiliki rencana, tentunya sebagai seorang pemimpin harus dapat menjelaskan dengan baik terkait rencana yang telah kita buat sebelum dieksekusi bersama para anggota. Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang superman tapi mereka yang superteam, karena itu kita harus dapat mengenali potensi anggota untuk bisa membagi job desc dengan sempurna. Setelah itu, barulah mimpi tersebut direalisasikan bersama para anggota dengan rencana yang telah disusun.

Tugas seorang pemimpin tak berakhir sampai di sini, setelah mimpi tersebut berhasil direlisasikan, pemimpin perlu melakukan pemeriksaan ulang atau evalusai terhadap hal yang telah dikerjakan. Hal ini dimaksud untuk dapat menjadi pembelajaran kedepannya guna merealisasikan mimpi-mimpi lainnya.

Bagi seorang pemimpi, merealisasikan sebuah mimpi tentu tidak dapat dilakukan dengan instan. Untuk memakan sebuah mie instan saja kita memerlukan waktu kurang lebih 3 menit untuk memasaknya, apalagi merealisasikan mimpi dari seorang pemimpin yang tentunya memiliki mimpi yang besar. Manajemen waktu yang baik sangat diperlukan dalam hal ini. Seorang pemimpin ideal bukanlah dia yang memiliki banyak waktu, akan tetapi ia yang dapat membagi waktu. Pemimpin ideal juga bukanlah ia yang sibuk, akan tetapi ia yang produktif memiliki progress atas setiap pekerjaannya. 

Ketika kita memiliki mimpi yang berbeda dari orang lain, mimpi tersebut akan terdengar kosong tanpa harapan bagi orang lain. Maka yang harus kita lakukan adalah menerima kondisi tersebut dan terus focus dengan tujuan untuk merealisasikan mimpinya. Pada hakikatnya, sebagai seorang pemimpin yang bermimpi, kita harus dapat menjadikan mimpi kita sebagai jalan untuk orang lain mencapai mimpi-mimpinya. 

“Dunia tertidur dan orang-orang sedang bermimpi. Tapi esok, Ketika subuh tiba, kita bisa membuat mimpi kita menjadi kenyataan.” – Filsuf Stoik, Negarawan dan Penulis Drama Romawi pada Zaman Perak Sastra Latin, Lucius Annaeus Seneca

BEM PM UNUD

Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan mahasiswa Universitas Udayana