Masalah, Hadir untuk Diruntaskan Bukan Ditinggalkan

Scroll ke bawah untuk membaca artikel

Masalah, Hadir untuk Diruntaskan Bukan Ditinggalkan

by BEM PM Udayana


Posted on : May 1, 2021


Kehidupan sehari-hari kita dalam berorganisasi sebenarnya adalah kehidupan yang selalu bergumul dengan keputusan. Keputusan merupakan kesimpulan terbaik yang diperoleh setelah mengevaluasi berbagai alternatif. Namun banyak dari kita yang dengan mudah penat akan banyaknya masalah dan tak jarang juga kita mengabaikan masalah tersebut sehingga pengambilan keputusan kita untuk mengabaikan masalah hanya akan menambah beban semata. Lalu bagaimana cara penyelesaiannya?

Masalah, Hadir untuk Dituntaskan Bukan Ditinggalkan

 

Masalah bagaikan bunga kehidupan bagi manusia, kehidupan akan menjadi hambar dan kurang menarik jika masalah tidak hadir di kehidupan kita. Manusia tidak pernah sepi akan masalah, bahkan penyelesaian masalah tertentu justru kadang memunculkan masalah baru yang perlu dicari lagi penyelesaiannya. Apapun bentuk masalah yang ada, setiap masalah perlu diselesaikan agar tidak menghambat roda perjalanan hidup pribadi dan organisasi. Masalah yang tidak ditangani dengan semestinya, akan menjadi duri bagi perjalanan hidup pribadi maupun organisasi di hari-hari selanjutnya. 

Sumber masalah dalam suatu organisasi pada umumnya timbul karena ketidakpastian, kelangkaan, harapan, kemampuan dan keterampilan, upaya dan motivasi, kesempatan, ketidakmampuan untuk berkembang lebih lanjut, stagnasi, kedewasaan kelompok yang memunculkan pikiran kelompok, konflik yang kronis, perubahan kelompok, kemalasan sosial, dampak buruk kepada sesama karena kehadiran seseorang dalam kelompok, dan persepsi.[1]  

Setiap dihadapkan pada persoalan yang membutuhkan jalan keluar, pasti akan berkaitan erat dengan pengambilan keputusan. Maka dari itu, pemecahan masalah tidak dapat dipisahkan dengan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan terus-menerus terjadi di dalam organisasi, sehingga organisasi disebut sebagai a decision making machine (mesin pengambil keputusan).[2] Pengambilan keputusan adalah peranan yang sangat penting dalam organisasi, bahkan dapat diidentikkan dengan pengelolaan organisasi, karena keputusan yang diambil sangat menentukan perjalanan hidup organisasi. Apabila suatu organisasi terjebak dalam suatu permasalahan maka berikut tahap-tahap penyelesaian masalah yang harus dilalui:

  1. Problem sensing, adalah proses pemecahan masalah dengan penuh ketelitian yang tinggi dan juga praktis, dengan mengidentifikasi kesenjangan antara situasi yang dipersepsikan dengan situasi yang diharapkan.
  2. Menyaring masalah, untuk meyakinkan bahwa anggota organisasi sepakat dan sepaham tentang batasan persoalan yang dihadapi. Misalnya, siapa yang terlibat, siapa penyebabnya, macam persoalan, tujuan penyelesaian persoalan, dan bagaimana menilai hasilnya.
  3. Menghasilkan solusi alternatif, untuk semakin mengukuhkan pengambilan keputusan dalam pemecahan masalah kita juga perlu perspektif dari orang lain dengan cara bertukar pikiran untuk menganalisis setiap alternatif pemecahan guna mendapat sebanyak mungkin solusi atas masalah yang dihadapi.
  4. Fase evaluasi, fase di mana mengidentifikasi tahapan tindakan tentatif (yang belum pasti atau masih dapat berubah), mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi, menyaring dan memilih solusi terbaik.
  5. Perencanaan aksi dari setiap langkah, yaitu persiapan langkah kita untuk pengambilan keputusan dalam suatu permasalahan. Poin yang terpenting dalam persiapan langkahlangkah pengambilan keputusan adalah memastikan bukti yang sudah terkumpul tidak ada keraguan.
  6. Penerapan langkah, tentu saja perencanaan harus dieksekusi, yang diperlukan dalam pemecahan masalah adalah obyektivitas penilaian akan segala aspek permasalahan yang dihadapi dan mengambil keputusan yang realistis.
  7. Tindak lanjut, langkah akhir adalah menyiapkan diri terhadap konsekuensi yang akan hadir atau biasa disebut cognitive dissonance sebagai konsekuensi dari setiap keputusan. Artinya, penyelesaian masalah lebih luas dari pengambilan keputusan, karena masih harus mempertimbangkan konsekuensi keputusan yang diambil.[3]

Kemampuan menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan ini sangat diperlukan agar dapat mengidentifikasi persoalan, mencari dan memperoleh alternatif, menilai semua alternatif yang tersedia, dan membuat pilihan yang kompeten. Jadi pengambilan keputusan yang kompeten merupakan akhir penyelesaian masalah.[4] Selain langkah-langkah yang telah disebutkan di atas, dalam pemecahan masalah perlu memerhatikan dua hal, yaitu diagnosis dan tindakan. Keduanya harus seimbang dan dijalankan dengan baik dan benar. Over-diagnosis menyebabkan “paralysis

 

by analysis” atau kelumpuhan dari banyaknya analisis atau pemikiran tanpa tindakan, sederhananya organisasi tidak berani dan tidak pernah bertindak. Sedangkan, underdiagnosis yang akan menghasilkan “extinction by instinct” atau kepunahan yang lahir dari naluri, sederhananya organisasi terlalu cepat bertindak mengambil keputusan sehingga organisasi dinilai tidak efektif dalam pemecahan masalah. 

Dari setiap upaya kita memecahkan masalah, kita perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi konsekuensinya. Penyelesaian masalah tidak jarang juga memunculkan masalah baru, Maka, masalah perlu dianggap sebagai tantangan dan peluang yang memungkinkan organisasi menemukan jalan keluar baru, sehingga membuat anggota organisasi dapat belajar hal baru yang belum dikenal sebelumnya. Dengan kata lain, masalah perlu disikapi sebagai kesempatan memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru untuk menangani dan menjalankan roda kehidupan pribadi dan juga organisasi. 

Cara terbaik keluar dari kesulitan adalah dengan melaluinya 

-Will Rogers-

 

[1] Gibson, James L., John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Jr., and Robert Konopaske (2003). Organizations:

Behavior, Structure, Process., Eleventh Edition.,Boston: McGraw–Hill Irwin.

[2] Jones, Gareth R. (2007). Organizational Theory, design, and Change., Fifth Edition., Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Education, Inc.

[3] Kast, Fremont E., and James E. Rosenzweig (1985). Organization and Management: A Systems and Contingency

Approach., Fourth Edition., New York: McGraw–Hill Book Company

[4] Robbins, Stephen P. (2001). Organizational Behavior., Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall International, Inc.