X dan Y dari Kacamata Seorang Pemimpin

Scroll ke bawah untuk membaca artikel

X dan Y dari Kacamata Seorang Pemimpin

by BEM PM Udayana


Posted on : April 24, 2021


Douglas McGregor, memaparkan dua teori yang merupakan dua jenis pendekatan dalam hubungan perilaku pemimpin dalam memimpin sumber daya manusia suatu organisasi. Dua Teori ini adalah Teori X dan Teori Y. Pemimpin yang tergolong dalam kategori X merupakan seorang pemimpin yang cenderung melihat anggotanya dari sisi negatif sedangkan pemimpin yang tergolong dalam kategori Y merupakan seorang pemimpin yang melihat anggotanya dari sisi positif dengan pemikiran yang optimis.Kedua teori ini memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Lantas, teori manakah yang paling tepat di terapkan dalam organisasi?

X dan Y dari Kacamata Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin memiliki pengaruh besar dalam jalannya suatu organisasi. Pemikiran seorang pemimpin merupakan faktor utama yang berdampak besar dalam cara memimpin suatu organisasi, terutama tentang hal apa yang memotivasi para anggota untuk bekerja. Motivasi berperan penting dalam berjalannya dinamika organisasi. Motivasi layaknya bahan bakar yang mendorong untuk tetap berusaha mencapai suatu tujuan. Penting halnya untuk seorang pemimpin memahami hal apa yang dapat memotivasi anggotanya. Maka dari itu, timbullah asumsi yang membentuk dua teori kepemimpinan. 

Pada tahun 1960, seorang psikolog yang bernama Douglas McGregor, memaparkan dua teori yang dituangkan dalam satu buku yang berjudul The Human Side of Enterprise. Dua teori ini merupakan dua jenis pendekatan dalam hubungan perilaku pemimpin dalam memimpin sumber daya manusia suatu organisasi. Dua teori ini dinamakan Teori X dan Y, yang menggambarkan bagaimana keyakinan seorang pemimpin tentang apa yang memotivasi anggotanya dalam bekerja dapat memengaruhi gaya mereka dalam melakukan pekerjaan dan tugas yang ada.

Pemimpin yang tergolong dalam kategori X merupakan seorang pemimpin yang cenderung melihat anggotanya dari sisi negatif dan beranggapan bahwa anggotanya kurang memiliki motivasi dan semangat dalam bekerja. Asumsi yang dikembangkan dalam teori ini pada dasarnya cenderung negatif dan gaya kepemimpinan yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan petunjuk. Sehingga, pemimpin kategori X selalu memberi perintah, memberi apresiasi, dan memberi hukuman kepada anggotanya untuk memastikan tugas yang dilakukan anggotanya selesai sesuai target yang ia berikan. 

Kelebihan Teori X adalah memudahkan pemimpin untuk mengatur anggota yang tidak produktif. Hal ini dikarenakan perintah pemimpin yang lebih bersifat petunjuk dan perintah cocok diterapkan untuk anggota yang malas-malasan dan tidak memiliki inisiatif. Di samping kelebihannya, segala sesuatu hal pasti memiliki kekurangan. Kekurangan dan tantangan dari Teori X adalah anggota akan cenderung bersifat pasif, kreativitas anggota tidak dapat berkembang, serta tidak inovatif. Kekangan yang dirasakan akibat perlakuan pemimpin Teori X juga akan membuat anggota merasa terkekang dan akan menurunkan kinerja anggota. Komunikasi dalam Teori X juga lebih bersifat satu arah, yaitu dari pemimpin ke anggota. Hal ini menyebabkan anggota hanya menerima apa yang dikatakan oleh pemimpin tanpa memberikan umpan balik, sehingga akan membentuk anggota yang tidak memiliki inisiatif.

Pemimpin yang tergolong dalam kategori Y merupakan seorang pemimpin yang melihat anggotanya dari sisi positif dengan pemikiran yang optimis. Kepemimpinan Teori Y tidak terpusat pada satu figur saja. Pemimpin kategori Y akan memotivasi anggotanya untuk menerapkan kerja sama, partisipatif, dan percaya pada anggotanya. Mereka juga akan memberikan apresiasi kepada anggotanya untuk membuka ruang komunikasi dan menjaga komunikasi yang baik. Pemimpin kategori Y memiliki ciri-ciri, memberi ruang kepada anggota untuk memberi opini, tidak selalu memberi perintah, melihat anggotanya sebagai pribadi yang memiliki banyak potensi, selalu memotivasi anggotanya, dan memberi ruang kepada anggota untuk ikut serta dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Dengan diterapkannya Teori Y, anggota akan memiliki kontribusi lebih terkait jalannya organisasi, seperti memiliki andil dalam suatu keputusan. Efisiensi kerja pun dapat meningkat, mengingat perlakuan yang diberikan pemimpin Teori Y akan membuat anggotanya lebih nyaman dalam bekerja. Namun, Teori Y juga dapat berakibat pada hilangnya fokus awal anggota, karena kebebasan yang mereka miliki dan anggota memanfaatkan situasi untuk bermalas-malasan dalam melakukan apa yang telah ditugaskan kepada mereka.

Teori X dan Teori Y memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua kembali kepada pemimpin organisasi dan kembali kepada realita organisasinya. Pengaplikasian dua teori ini akan terikat oleh keadaan dan realita. Realita nantinya yang akan memengaruhi gaya seorang pemimpin dalam mengatur anggotanya. Misalnya, Teori X umumnya lebih biasa diterapkan dalam organisasi yang tergolong besar dan dihantui oleh berbagai tuntutan target yang harus dicapai. Dalam kasus ini, para anggota tidak dimungkinkan untuk bermalas-malasan. Oleh karena itu, pemimpin harus ketat dalam memperlakukan anggotanya. Sebaliknya, Teori Y cenderung disukai oleh organisasi yang memiliki struktur lebih datar, di mana anggota dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Pada akhirnya kedua teori ini dapat diaplikasikan sesuai realita masing-masing organisasi. Sebagai pemimpin, merekalah yang paling tahu metode apa yang harus diterapkan pada organisasi yang dipimpinnya. Metode kepemimpinan ini memiliki dampak yang signifikan untuk memotivasi para anggota dalam bekerja. Maka dari itu, pemimpin harus memilih metode terbaik untuk mencapai seluruh target organisasi, kesejahteraan anggota, dan demi kepentingan bersama.

Nah, kalau di organisasimu sendiri teori apakah yang paling tepat untuk diterapkan?

“Seorang pemimpin seperti gembala. Dia tetap berada di belakang kawanan, membiarkan yang paling gesit berada di depan, yang lain mengikuti, tidak menyadari bahwa selama ini

mereka diarahkan dari belakang.” – Nelson Mandela